Death A Date (Part 1)

Cerpen Karangan: Miftah
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 10 March 2022

 

Aku berdiri di depan cermin, menatap sosok gadis yang nampak gelisah, bingung memilih baju mana yang cocok untuk kencan pertama ini, lenganku membuka lemari memilih sana-sini sampai pilihanku berakhir pada sebuah dress santai berwarna biru, aku kembali menatap seorang gadis di cermin sambil mengikat rambutku, sepertinya di cermin aku sudah rapih, aku melihat jam dan ini pukul 14.30.

“Aku nungguin nih diluar, jangan lama ya,” tulis sebuah pesan dari Jidan.

Aku keluar dari rumah, nampak di sana seorang cowok sedang berdiri dengan keadaan cemberut menungguku yang mungkin kelamaan, aku melambai ke arahnya lalu dia melangkah, belum sempat sebuah kata terucap, sebuah mobil datang begitu cepat menabrak Jidan hingga terpental.

“Jidan!” teriakku, aku berlari ke arahnya yang terkapar bersimbah darah, aku tak bisa merasakan denyut nadinya.

Air mataku tak dapat dibendung, dadaku terasa begitu sakit dan sesak, penyesalan ini datang kembali, Kenapa? Kenapa aku mengulangi hal yang sama? Akankah aku mendapat kesempatan lagi?

Death A Date 13
Aku kembali berada di depan cermin, melihat diriku sendiri yang hendak bersiap untuk pergi kencan, lihatlah rambut gadis di cermin itu begitu acak-acakan, aku menatap jam 13.45

Aku tak membuang waktu, aku mengambil dress biru dan mengikat rambutku, aku hanya cuci muka dan langsung pergi buru-buru meninggalkan rumah, di sana ada seorang pria baru saja datang lalu menyapa diriku.

“Anna, kamu lama nunggu?” tanya Jidan dia tersenyum mengusap lembut rambutku.
“Aku baik kok sepertinya kita harus segera pergi, aku pengen cepet-cepet makan kebab di taman itu loh,” balasku cepat lalu menarik lengannya buru-buru.
“Hey, santai donk segitunya pengen kebab, belum makan?” tanyanya bingung.
“Iya, makanya ayo cepet,” jawabku masih menarik lengannya.

Aku menarik nafas lega saat berhasil meninggalkan rumahku, kini kami tiba di taman, di sana Jidan langsung menuju ke sebuah stand dagang untuk memesan kebab, lalu kami pergi ke sebuah danau, duduk di rumput hijau sana sambil menikmati kebab, Jidan sengaja memesannya satu berukuran jumbo untuk kami nikmati bersama.

“Kamu tau, menghabiskan waktu denganmu membuat hari-hariku terasa indah,” Jidan tersenyum sumringah membuat hatiku terenyuh.
“Aku tau, waktu itu berharga, kita tidak bisa memutar balikan waktu yang telah berlalu, jadi aku ingin membuat kenangan yang indah saat bersamamu,” balasku bergeser semakin mendekatinya, menyandarkan kepalaku di bahunya.

Mata kami menatap danau beratap langit biru, angin sepoi-sepoi begitu sejuk, sesekali burung terbang dan berkicau menemani kebersamaan kami, air danau merefleksikan ketenangan, tak ada seorang pun di sini selain kami, dunia seakan milik kami berdua.

“Hey ada yang ingin kamu katakan?” tanya Jidan menunduk menatap mataku.
“Aku gapapa,” balasku singkat.
“Kalau gapapa berarti ada sesuatu.” telapak tangannya membelai rambutku. “Kamu bisa cerita sama aku kok, tapi aku gak akan maksa.”

“Pernahkah kamu merasakan masa yang seharusnya menjadi masa berkesan malah membosankan?” tanyaku masih bersandar di bahunya.
“Begitu, Anna si cerdas, cantik dan atletik namun susah didekati, pernah berkata kalau dia tidak perlu berteman karena teman hanya akan menghambatnya.” Jidan terkekeh
“Ih malah ngeledek!” aku meninju bahunya sampai dia meringis.
“Ya maaf hehehe, habisnya kamu dulu sok banget bilang gitu, liat kenyataanya masa SMA mu kandas gitu aja wkwkwk.” Jidan terus menertawaiku bikin aku kesal.

Aku bangkit. “Aku emang gak butuh teman, memangnya apa gunanya? Mereka ada cuman pas ada maunya, mengkhianati demi keuntungannya, pergi saat aku butuh bantuan, merundung orang yang lemah, mereka biang masalah.”
Jidan menghela nafas. “aku kecewa padamu,” dia menatapku dengan tatapan sendu. “Aku ini pacar sekaligus temanmu, berarti selama ini aku hanya masalah bagimu?”
“Bu-bukan begitu-”
“Sudahlah,” Jidan beranjak dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkanku.

Aku mengejarnya dia terus melangkah ke arah ujung jembatan, aku mencoba meraih lengannya namun dia malah menceburkan diri ke dalam danau, aku terus meneriaki namanya namun tak ada jawaban, ditambah di sini tak ada orang yang bisa dimintai tolong.

Karena tak ada pilihan lain aku pun ikut menceburkan diri, di sana samar-sama aku dapat melihat tangan Jidan yang terus masuk ke dalam air yang gelap, sekuat tenaga aku berjuang meraih tangannya namun terasa sia-sia seolah danau ini tak ada ujungnya.

Death A Date 14
“Begitu, Anna si cerdas, cantik dan atletik namun susah didekati, pernah berkata kalau dia tidak perlu berteman karena teman hanya akan menghambatnya.” Aku mengenali suaranya itu Jidan yang meledekku.

Kubuka mata, kurasakan kehangatan dari pelukan seseorang, aku masih bersandar di bahu Jidan, kepalaku pusing dan sakit lalu berdengung sesaat, ah… Ini seharusnya tak terjadi lagi.

“Anna, kamu kenapa?” tanya Jidan khawatir. “Kamu sakit? Wajahmu pucat tiba-tiba, kita ke rumah sakit ya.” Jidan beranjak dari tempat duduknya hendak menuntunku.
Namun aku menarik lengannya untuk tetap duduk. “Jangan pergi, kumohon temani aku,” pintaku sepelan bisikan namun kurasa Jidan masih sanggup mendengarnya.
Jidan mengerti dan kembali duduk, dia menarikku kedalam pelukannya membuatku menangis di bahunya, Jidan membiarkanku seperti itu untuk sesaat sampai aku benar-benar tenang.

“Maaf kalau aku menyakitimu.” Jidan mengusap lembut rambutku kurasakan penyesalan setiap gerakan tangannya. “Seharusnya aku tidak mengatakan itu, aku mengerti kenapa semasa SMA kamu bersikap begitu dingin, selalu menyendiri dan enggan diajak bicara, aku tau masa lalumu saat di sekolah dasar begitu kelam, kan.”
Aku mengangguk. “Dulu mereka terus membullyku tanpa alasan yang jelas, nilaiku jadi jelek membuat ayah dan ibuku kecewa apalagi dari awal mereka memang tidak peduli padaku, bahkan nenek satu-satunya orang yang menyayangiku meninggal, aku belum sempat melihatnya untuk yang terakhir kali karena para pembully itu terus menghadangku, aku tidak tahan!” aku meremas baju Jidan menenggelamkan wajahku di dadanya.
“Aku ada disini sekarang, izinkan juga aku menanggung beban di hatimu, aku yakin akan menjadi lebih baik.” Jidan menyakinkan

“Aku dianugerahi kekuatan fisik lebih dari orang lain, dihari saat nenekku sekarat di rumah sakit aku dihadang di sekolah, awalnya aku mencoba menahan diri namun tak bisa, aku membuat mereka babak belur sekaligus, mematahkan lengan dan kaki mereka, menghantamkan kepalanya ke lantai hingga digenangi darah,” ucapku gemetar saat mencoba mengingatnya kembali. “seisi lorong berteriak, aku terdiam menatap darah yang terus mengalir, seluruh tubuhku gemetar, apa aku membunuh mereka? Atau membuat mereka cacat permanen? Aku tidak tau sampai sekarang, aku menyesalinya tepat saat di rumah sakit nenekku juga telah tiada,” jelasku sesaat kami terdiam sebelum aku mundur dan menyeka air mata.

“Selama ini, kamu pasti menjalani hidup yang begitu berat, maaf aku yang tidak bisa mengerti perasaanmu.” Jidan menunduk masih merasa bersalah.
Kedua telapak tanganku menyentuh pipinya. “Aku tidak bermaksud membuatmu bersalah.” aku tersenyum kepadanya. “Aku menyukaimu karena kamu pendengar yang baik, rasanya lega setelah aku berbicara padamu, lagipula kamu benar, aku memang sok-sok’an bilang gak butuh teman, aku sadar kalau kita tidak bisa hidup sendiri.”
“Kamu pasti merasa kesepian selama ini, pokoknya kalau kamu bersamaku, aku jamin kamu tidak akan merasa kesepian lagi, aku akan selalu perhatian padamu,” ucapnya sembari memegang kedua tanganku di pipinya.
Aku tersenyum. “Terima kasih.”

“Kalau gitu, ingin melihat sekolah untuk yang terakhir kalinya? Aku rasa masih sempat,” saran Jidan bangkit dari tempat duduknya.

Tak terasa hari semakin sore, jarak antara sekolah dan danau ini tidak begitu jauh, kami putuskan untuk berjalan bergandengan menuju sekolah, tiba di sana gerbangnya masih terbuka tak ada satpam penjaga, jadi kami masuk begitu saja.

Rasanya jadi kangen, sudah setahun lebih aku tidak kesini, suasananya tak banyak berubah, deretan bangku masih berjejer rapi di dalam masing-masih kelas namun nampaknya telah berdebu. Kami berjalan ke taman di sekolah dan berhenti di sebuah bangku dekat pohon.

Jidan duduk di bangkunya. “Ini tempat kita pertama bertemu, karena aku teman sekelasmu aku berencana menyapamu tapi—”
“Aku pergi sebelum kamu melakukannya.” potong ku menatapnya kasihan lalu pergi ke sebuah lapangan.
“Kamu emang judes dulu,” balas Jidan mengikutiku.

Aku terdiam di tengah lapangan yang cukup luas, menatap langit yang semakin berubah warna menjadi jingga, tangan kami masih saling berpegangan dan aku enggan melepasnya.

“Sekuat-kuatnya fisik yang aku miliki, aku juga bisa sakit,” ucapku menatap Jidan yang mengerti dengan maksudku.

Jidan Menarik tanganku, kami berlari bersama menuju ruang UKS, disini sepi cahaya senja menembus jendela kurasakan angin lewat menyibakkan tirai, terasa dingin namun terobati dengan genggaman tangan Jidan.

“Kamu pingsan karena memaksakan diri,” Jidan menuntunku ke salah satu ranjang di UKS. “Aku membawamu dan membaringkanmu di sini, menunggu hingga kamu sadar.”
“Saat tersadar kepalaku begitu pusing, dulu kita berbincang sesaat tapi maaf aku belum sempat mengucapkan terimakasih,” balasku.
“Jangan sungkan, aku tau kamu hanya berhati-hati,” ucap Jidan mencoba memahamiku.
“Aku hanya sulit mempercayai orang-orang, apalagi saat aku pingsan ada kemungkinan kamu mengambil kesempatan,” balasku menatapnya serius.
“Aku hanya membantu, tak lebih, berhentilah menatapku seperti itu,” sanggah Jidan.
Aku tersenyum. “baiklah aku yakin kamu tidak seperti itu.”

Jidan melepas genggamannya, sebelum memutar knop pintu, entah kenapa aku jadi merasa gemetar, takut saat dia mencoba melangkah pergi keluar UKS, aku dengan cepat meraih baju pingganya membuatnya terhenti.

“Jangan pergi, kenapa kamu melepas genggamanku?” tanyaku dengan bibir gemetar, tertunduk ke tanah.
“Ah maaf aku mau ke toilet, mau ikut?” tanya Jidan membuatku menggelengkan kepala seketika.

Aku duduk di sebuah bangku di dalam lorong, sekolah ini begitu sepi sendari tadi aku tidak melihat seorangpun disini, bahkan guru pun aku belum melihatnya, yang aku tau biasanya beberapa guru kadang pulang malam.

Aku menunggu lama, cukup lama sampai aku tak tenang, kuputuskan untuk menyusul Jidan, namun aku tak menemukannya di toilet cowok, aku juga mencarinya ke lantai atas sampai di tengah jalan, tepat di depan mataku sendiri Jidan sedang dipeluk oleh seorang gadis yang kukenal, sepertinya mereka juga menyadari kehadiranku.

Rasanya sakit melihat itu, kuputuskan untuk pergi tak peduli jika Jidan mencoba menyusulku, namun aku kembali berbuat kesalahan, saat Jidan mengejarku dia tersandung dan jatuh di tangga, membuat lehernya terkulai dan patah.

Cerpen Karangan: Miftah
Wattapad: MAP171615
Facebook: Miftah AF
IG: Kang_mif.id
Jangan lupa mampir ke wattpad saya ya, untuk IG udah berubah jadi Kang_mif.id

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 10 Maret 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Death A Date (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Miftah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

What is AdLinkFly - DIEN.CO.ID?

AdLinkFly - DIEN.CO.ID is a completely free tool where you can create short links, which apart from being free, you get paid! So, now you can make money from home, when managing and protecting your links. Register now!

Shorten URLs and earn money

Signup for an account in just 2 minutes. Once you've completed your registration just start creating short URLs and sharing the links with your family and friends.